Saturday, March 28, 2020

TOLERANSI SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA



Toleransi Sebagai Alat Pemersatu Bangsa




A.     Pentingnya Perilaku Toleransi  

        Toleransi sangat penting dalam kehidupan manusia, baik dalam berkata­kata maupun dalam bertingkah laku. Dalam hal ini, toleransi berarti menghormati  dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan  di antara kita sehingga tercapai kesamaan sikap. Toleransi merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang salah, justru perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai kekayaan. Misalnya, perbedaan ras, suku, agama, adat istiadat, cara pandang, perilaku, pendapat. Dengan perbedaan tersebut, diharapkan manusia dapat mempunyai sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang ada, dan berusaha hidup rukun, baik individu dan individu, individu dan kelompok masyarakat, serta kelompok masyarakat dan kelompok masyarakat yang lainnya.


Terkait pentingnya toleransi Allah Swt menegaskan dalam firmannya sebagai berikut :


Arti Ayat

“Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (al- Qur'an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Yµnus/10: 40)“Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Yµnus/10: 41)

A.     Menghindari diri dari perilaku tindakan kekerasan.
 
     Manusia dianugerahi oleh Allah Swt. berupa nafsu. Dengan nafsu tersebut, manusia dapat merasakan benci dan cinta. Dengannya pula manusia bisa melakukan persahabatan dan permusuhan. Dengannya pula manusia bisa mencapai kebahagiaan ataupun kesengsaraan. Hanya nafsu yang telah berhasil dijinakkan oleh akal saja yang akan mampu menghantarkan manusia kepada kemuliaan. Namun sebaliknya, jika nafsu di luar kendali akal, niscaya akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesengsaraan dan kehinaan. 

     Permusuhan berasal dari rasa benci yang dimiliki oleh setiap manusia. Sebagaimana cinta, benci pun berasal dari nafsu yang harus bertumpu di atas pondasi akal. Permusuhan di antara manusia terkadang karena kedengkian pada hal­hal duniawi seperti pada kasus Qabil dan Habil ataupun pada kisah Nabi Yusuf as. dan saudara­saudaranya. Terkadang pula permusuhan dikarenakan dasar ideologi dan keyakinan yang berbeda. 

     Akhir­-akhir ini sering sekali tindak kekerasan disebabkan oleh pemahaman dan keyakinan yang berbeda. Karena perbedaan keyakinan dan pemahaman, banyak orang yang menghujat dan berakhir dengan kekerasan.  

     Islam melarang perilaku kekerasan terhadap siapapun, Allah Swt berfirman :

Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa ba-rangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain (qisas), atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan- keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” (Q.S. al-Maidah/5: 32)



        Allah Swt. menjelaskan dalam ayat ini, bahwa setelah peristiwa pembunuhan Qabil terhadap Habil, Allah Swt. menetapkan suatu hukum bahwa membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh seluruh manusia. Begitu juga menyelamatkan kehidupan seorang manusia, sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Ayat ini menyinggung sebuah prinsip sosial di mana masyarakat bagaikan sebuah tubuh, sedangkan individu­individu masyarakat merupakan anggota tubuh tersebut. Apabila sebuah anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakan sakit. 
       Begitu juga apabila seseorang berani mencemari tangannya dengan darah orang yang tak berdosa, maka pada hakikatnya dia telah membunuh manusia­ manusia lain yang tak berdosa. Dari segi sistem penciptaan manusia, terbunuhnya Habil telah menyebabkan hancurnya generasi besar suatu masyarakat, yang akan tampil dan lahir di dunia ini. Al-Qur’±n memberikan perhatian penuh terhadap perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh sebuah masyarakat. 
       Pengadilan di negara­negara tertentu menjatuhkan hukuman qisas, yaitu membunuh orang yang telah membunuh. Di Indonesia juga pernah dilakukan hukuman mati bagi para pembunuh.
  Dalam Q.S. al-Maidah/5: 32 terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik. 
a.          Nasib kehidupan manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain. Sejarah kemanusiaan merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Oleh karena itu, terputusnya sebuah mata rantai akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar umat manusia. 
b.         Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka. Pembunuhan seorang manusia dengan maksud jahat merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi keputusan pengadilan untuk melakukan eksekusi terhadap seorang pembunuh dalam rangka qisas merupakan sumber kehidupan masyarakat. 
c.          Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa manusia, seperti dokter, perawat, atau polisi harus mengerti nilai pekerjaan mereka. Menyembuhkan atau menyelamatkan orang yang sakit dari kematian bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat dari kehancuran. 
Tugas kita bersama adalah menjaga ketenteraman hidup dengan cara mencintai, orang­orang yang berada di sekitar kita. Artinya, kita dilarang melakukan perilaku­ perilaku yang dapat merugikan orang lain, termasuk menyakiti dan melakukan tindakan kekerasan. 
Di Indonesia ada hukum yang mengatur pelarangan melakukan tindak kekerasan, termasuk kekerasan kepada anak dan anggota keluarga, misalnya UU No. 23 Tahun 2002 dan UU No. 23 Tahun 2004.
Menerapkan Perilaku Mulia 
 
      Mari kita renungkan dan amati suasana kehidupan bangsa Indonesia. Kondisi bangsa Indonesia yang berbhinneka ini harus kita pertahankan demi ketenteraman dan kedamaian penduduknya. Salah satu cara mempertahankan kebhinnekaan ini adalah dengan toleransi atau saling menghargai. 
    Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kerukunan hidup antarsuku, ras, golongan dan agama harus selalu dijaga dan dibina. Kita tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah saling bermusuhan satu sama lain.
Berikut perilaku­perilaku toleransi yang harus dibina sesuai dengan ajaran Islam. 
1.         Saling menghargai adanya perbedaan keyakinan. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain agar mereka mengikuti keyakinan kita. Orang yang berkeyakinan lain pun tidak boleh memaksakan keyakinan kepada kita. Dengan memperlihatkan perilaku berakhlak mulia, insya Allah orang lain akan tertarik. Rasulullah saw. selalu memperlihatkan akhlak mulia kepada siapa pun termasuk musuh­musuhnya, banyak orang kafir yang tertarik kepada akhlak Rasulullah saw. lalu masuk Islam karena kemuliaannya. 
2.         Saling menghargai adanya perbedaan pendapat. Manusia diciptakan dengan membawa perbedaan. Kita harus menghargai perbedaan tersebut. 
3.         Belajar empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Bantulah orang yang membutuhkan. Sering terjadi tindak kekerasan disebabkan hilangnya rasa empati. Ketika ingin mengganggu orang lain, harus sadar bahwa mengganggu itu akan menyakitkan, bagaimana kalau itu terjadi pada diri kita. Masih banyak lagi contoh perilaku toleransi yang harus kita miliki. 
Dengan toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan saling menghormati, akan terbina kehidupan yang rukun, tertib, dan damai.


  
                                      

 

                                                Selamat Belajar Semoga Sukses
  

                                Setelah belajar dengerin lagu ini untuk sekedar refreshing 






 


                Semoga terhibur :)
 





Tuesday, August 20, 2019

Latihan Soal Tentang Iman Terhadap kitab-kitab Allah



Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !


1. Apa yang dimaksud dengan beriman kepada kitab-kitab Allah?
2. Jelaskan bagaimana sikap seorang muslim terhadap kitab suci selain Al-Qur'an?
3. Apa manfaat beriman terhadap kitab-kitab Allah?
4. Jelaskan dampak buruk dari sikap tidak beriman terhadap kitab-kitab Allah?
5. Kemukakan 3 hikmah beriman terhadap kitab-kitab Allah!

https://www.google.com/search?q=gambar+animasi+siswa+sedang+mengerjakan+soal&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwikq6Kfs5DkAhUDdCsKHY-3DCAQ_AUIESgB&biw=1366&bih=654#imgrc=2WQY8HsOXNDnSM:

                     * SELAMAT MENGERJAKAN SEMOGA SUKSES *

Friday, August 9, 2019

HIDUP NYAMAN DENGAN PERILAKU JUJUR






A. Pentingnya Perilaku Jujur


Jujur memiliki arti kesesuaian antara apa yang diucapkan atau diperbuat dengan kenyataan yang ada. 
Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, dikatakan dusta. Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk berlaku benar baik dalam perbuatan maupun. 

Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Ketika berani mengatakan “tidak” untuk korupsi, berusaha menjauhi perilaku korupsi. Jangan sampai mengatakan tidak, kenyataannya ia melakukan korupsi. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal hatinya tidak. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
  
sabda Rasulullah saw. berikut ini:



Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda “Tanda orang munafik itu ada 3, yaitu: Apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Bukhari muslim)
B. Keutamaan Perilaku Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur. Karena kejujuran merupakan akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada kebajikan, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw.,
Artinya: “Dari Abdullah ibn Mas’ud, dari Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga....” (HR. Bukhari)
Sifat jujur merupakan tanda keislaman seseorang dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Pemilik kejujuran memiliki kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan. Dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang yang jujur akan dipermudah rezeki dan segala urusannya. Contoh yang perlu diteladani, karena kejujurannya, Nabi Muhammad saw. dipercaya oleh Siti Khadijah untuk membawa barang dagangan lebih banyak lagi. Ini artinya Nabi Muhammad saw. akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi, dan tentu saja apa yang dilakukan Nabi akan mendapat kemudahan. Banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang hikmah perilaku jujur. Kamu dapat mencari contohnya.Sebaliknya, orang yang tidak jujur atau bohong akan dipersulit rezeki dan segala urusannya. Orang yang pernah berbohong akan terus berbohong karena untuk menutupi kebohongan  yang diperbuat, dia harus berbuat kebohongan lagi. Bersyukurlah bagi orang yang pernah berbohong sekali kemudian sadar dan mengakui kebohongannya itu sehingga terputus mata rantai kebohongan. Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya. Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membat hati jadi was-was. Contoh seorang siswa yang tidak jujur kepada orang tua dalam hal uang saku, pasti nuraninya tidak akan tenang apabila bertemu. Apabila orang tuanya mengetahui ketidakjujuran anaknya, runtuhlah kepercayaan terhadap anak tersebut. Kegundahan hati dan
kekhawatiran yang bertumpuk-tumpuk berisiko menjadi penyakit. 
C. Macam-Macam Kejujuran
Menurut tempatnya, jujur itu ada beberapa macam, yaitu jujur dalam hati atau niat, jujur dalam perkataan atau ucapan, dan jujur dalam perbuatan.
1. Jujur dalam niat dan kehendak, yaitu motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam rangka
menaati perintah Allah Swt. dan ingin mencapai riḍa-Nya. Jujur sesungguhnya berbeda dengan pura-pura
jujur. Orang yang pura-pura jujur berarti tidak ikhlas dalam berbuat. 
2. Jujur dalam ucapan, yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realitas yang terjadi, kecuali untuk kemaslahatan yang dibenarkan oleh syari’at seperti dalam kondisi perang, mendamaikan dua orang yang
bersengketa, dan semisalnya. Setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya,yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan, kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu, tidak berkata kecuali dengan benar dan
jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batiniah hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dan amal batin. Jujur dalam perbuatan ini  juga berarti melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan yang diriḍai Allah Swt. dan melaksanakannya secara terus-menerus dan ikhlas. Merealisasikan kejujuran, baik jujur dalam hati, jujur dalam perkataan, maupun jujur dalam perbuatan membutuhkan kesungguhan. Adakalanya kehendak untuk jujur itu lemah, adakalanya pula menjadi kuat.
D. Petaka Kebohongan
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, betapa berartinya sebuah kejujuran karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga. Sebaliknya, betapa berbahayanya sebuah kebohongan. Kebohongan akan menghantarkan pelakunya tidak dipercaya lagi oleh orang lain.
Ketika seseorang sudah berani menutupi kebenaran, bahkan menyelewengkan kebenaran untuk tujuan jahat, ia telah melakukan kebohongan. Kebohongan yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang dikhianatinya itu.
Artinya: “...Barangsiapa berkhianat, niscaya pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang      dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan            apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.’’ (Q.S. Āli ‘Imrān/3: 161)
Dalam hadis Rasulullah saw. mengingatkan:
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., dia berkata; Rasulullah saw., bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu, Ruwaibidhah berbicara.” Ada sahabat yang bertanya, “Apa yang dimaksud
Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah) Syaikh Muhammad al-Ghazali mengatakan, bahwa menjaga amanah ialah menunaikan dengan baik terhadap hak-hak Allah Swt. dan hak-hak manusia tanpa terpengaruh oleh perubahan keadaan, baik susah maupun senang. 
E. Hikmah Perilaku Jujur
Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari perilaku jujur, antara lain sebagai berikut. 
1. Perasaan enak dan hati tenang, jujur akan membuat kita menjadi tenang, tidak takut akan diketahui     kebohongannya karena memang tidak berbohong.
2. Mendapatkan kemudahan dalam hidupnya.
3. Selamat dari azab dan bahaya.
4. Dijamin masuk surga.
5. Dicintai oleh Allah Swt. dan rasul-Nya.
Perilaku jujur bisa diterapkan dalam berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat di mana kita tinggal. Berikut ini cara menerapkan perilaku jujur.
1. Di sekolah, kita bisa meluruskan niat untuk menuntut ilmu, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ibu bapak guru, tidak menyontek pekerjaan teman, melaksanakan piket sesuai jadwal, menaati peraturan yang berlaku di sekolah, berbicara secara benar baik kepada guru, teman ataupun orang- orang yang ada di lingkungan sekolah.  
2. Di rumah, kita bisa meluruskan niat untuk berbakti kepada orang tua, memberitakan hal yang benar. Contohnya saat meminta uang untuk kebutuhan suatu hal, tidak menutup-nutupi suatu masalah pada orang     tua, tidak melebih-lebihkan sesuatu hanya untuk membuat orang tua senang.
3. Di masyarakat, kita bisa melakukan kejujuran dengan niat untuk membangun lingkungan yang baik, tenang, dan tenteram, tidak mengarang cerita yang membuat suasana di lingkungan tidak kondusif, tidak membuat gosip. Ketika diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang diamanahkan, harus dipenuhi  dengan sungguh-sungguh, dan lain sebagainya.

                                                    

VIDEO FILM MOTIVASI



FILM PENDEK MOTIVASI 







Monday, May 13, 2019

POIN POIN MATERI YANG KELUAR DI PENILAIAN AKHIR SEMESTER KELAS 11 MIPA - IPS SMA NEGERI 4 PURWOKERTO


BAB 1 IMAN KEPADA KITAB - KITAB ALLAH

1. Pengertian Kitab dan Suhuf
2. kitab - kitab Allah dan para penerimanya
3. Nama - nama lain Al- Qur'an
4. Keistimewaan Al- Qur'an
5. contoh perilaku yang mencerminkan iman kepada kitab Allah dalam kehidupan sehari - hari

BAB II HIDUP NYAMAN DENGAN BERPERILAKU JUJUR

1. Pengertian jujur
2. Macam - macam kejujuran
3. Contoh perilaku jujur dalam kehidupan sehari - hari

BAB III KEPEDULIAN UMAT ISLAM TERHADAP JENAZAH

1. Hukum Shalat Jenazah
2. Tata cara menyolati jenazah
3. Doa Mengubur Jenazah
4. Pengertian Ta'ziyah dan Ziarah kubur

BAB IV PELAKSANAAN DAKWAH, KHOTBAH & TABLIG

1. Pengertian Dakwah, Khotbah dan tablig dan perbedaannya
2. Ketentuan Dakwah, Khutbah dan Tablig
3. Etika Berdakwah

BAB V PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA KEJAYAAN

1. PERIODISASI SEJARAH ISLAM
2. TOKOH TOKOH ILMUAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM

BAB VI TAAT KEPADA ATURAN, BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN & ETOS KERJA

1. Pentingnya taat kepada aturan, berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja
2. contoh perilaku yang mencerminkan taat kepada aturan, berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja dalam kehidupan sehari-hari

BAB VII IMAN KEPADA ROSUL-ROSUL ALLAH SWT

1. Perbedaan Nabi dan Rosul
2. sifat-sifat bagi Rosul Allah Swt
3. Tugas Rosul Allah swt
4. contoh perilaku yang mencerminkan iman kepada nabi dan rosul dalam kehidupan sehari hari

BAB VIII BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

1. Cara berbakti kepada kedua orang tua
2. contoh perilaku berbakti kepada kedua orang tua

BAB IX PRINSIP DAN PRAKTIK EKONOMI ISLAM

1. Pengertian Muamalah
2. macam macam muamalah
3. jual beli yang halal dan yang haram
4. syarat dan rukun jual beli
5. macam macam khiyar

BAB X PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN

1. Tahun terjadinya perkembangan islam pada masa modern
2. tokoh tokoh pembaharu perkembangan islam pada masa modern beserta karyanya
3. hikmah mempelajari perkembangan islam pada masa modern

BAB XI TOLERANSI SEBAGAI PEMERSATU BANGSA

1. Pengertian Toleransi
2. contoh perilaku toleransi dalam kehidupan sehari hari

MATERI TENTANG HUKUM BACAAN (TAJWID)
hukum bacaan nun mati atau tanwin, hukum bacaan mim mati dan mad



Ket : SILAHKAN POIN POIN MATERI DIATAS DIPELAJARI DENGAN BAIK SEMOGA DIBERI KELANCARAN DALAM BELAJAR DAN SEMOGA SUKSES...:)

Friday, January 4, 2019

MATERI PAI KELAS XI SMA TENTANG IMAN KEPADA ROSUL-ROSUL ALLAH SWT

IMAN KEPADA ROSUL-ROSUL ALLAH SWT





a. Pengertian Iman kepada rosul rosul Allah Swt

    Iman kepada rosul berarti meyakini bahwa rosul itu benar-benar utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan diakhirat.

b. Sifat Rasul-rasul Allah Swt
   
    Sifat Wajib bagi rasul :
    1. siddiq
    2. amanah
    3. tablig
    4. fathonah

    Sifat Mustahil bagi Rasul :

    1. kidzib
    2. khianat
    3. kitman
    4. baladah

 c. Tugas Rasul-rasul Allah Swt

    1. menyampaikan risalah dari Allah Swt
    2. mengajak kepada tauhid
    3. memberi kabar gembira kepada orang mukmin dan memberi peringatan kepada orang-orang kafir.
    4. menunjukkan jalan yang lurus
    5. membersihkan dan menyucikan jiwa manusia.


BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN (FASTABIQUL KHAIRAT)

  A. PENGERTIAN BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN *Fastabiqul Khairat* berasal dari bahasa Arab:   `فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ` = "Maka ber...