Monday, March 29, 2021

Peradaban Islam pada Masa Modern

 

 1. Islam pada Masa Modern

Masa modern, menurut Harun Nasution dimulai dari tahun 1800 – sekarang. Masa ini disebut dengan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon Bonaparte di Mesir yang berakhir tahun 1801 M, membuka mata dunia Islam, terutama di Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mencari jalan untuk mengembalikan
kejayaan Islam. Padahal pada periode klasik, Islam menjadi panglima dalam peradaban. Sebaliknya, di Barat pada masa itu masih mengalami kegelapan. Sedangkan masa modern ini ditandai dengan adanya
kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi saat itu negara-negara Islam banyak dijajah oleh penjajah. Banyak negara muslim mengikuti gerakan pembaruan tersebut, sehingga lahirlah suatu tatanan baru dalam dunia Islam, yaitu kebangkitan dunia Islam, baik bidang ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, maupun kebangkitan melawan penjajah. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan gerakan modernisasi atau pembaruan yang didorong oleh tiga faktor.

a. Pemurnian ajaran Islam dan unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam.
b. Menimba gagasan-gagasan pembaruan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Hal ini dengan pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki, Mesir, dan India ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam.
c. Kondisi negara-negara Arab, seperti Mesir, Turki di bawah jajahan negara-negara Eropa, khususnya Perancis. 

Pembaruan di beberapa negara tidak terlepas dari peran tokoh-tokohnya yang akan dibahas, di antaranya dari Mesir, yaitu: Muhamammad Ali Pasya, Rifa’ah Baidawi Ra ’at at-Tahtawi, Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha. Kemudian dari Turki, yaitu: Sultan Mahmud II, Namik
Kemal. Sedangkan dari India, yaitu Sayyid Ahmad Khan, dan Muhammad Iqbal.

 2. Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Modern


a. Muhammad Ali Pasya (1765 – 1849 M) Muhammad Ali Pasya dilahirkan di Kawalla, yang berada di bagian utara Yunani, pada bulan Januari 1765 M. Ayahnya bernama Ibrahim Agha, dari Turki. Secara ekonomi, keluarganya termasuk tidak mampu. Tetapi, ia termasuk anak yang cerdas dan pemberani. Dua hal itulah yang mengantarkannya menjadi pemimpin di Mesir dan salah satu pembaharu di dunia Islam. Salah satu jasa besarnya adalah berhasil menyelamatkan Mesir dari pendudukan Napoleon dari Perancis.Sehingga Sultan di Turki merestui Muhammad Ali menjadi wali Mesir.

Kemudian pemikiran Muhammad Ali Pasya, sebagai berikut .
1) Mengirimkan pelajar Mesir ke Prancis, Italia, Inggris, dan Austria sebanyak 311 antara tahun 1813 - 1849
2) Dalam bidang militer, Ali Pasya melakukan beberapa langkah, yaitu: mendatangkan seorang perwira tinggi Prancis bernama Save untuk melatih tentara militer Mesir. Selain itu, mengirimkan pelajar Mesir untuk belajar kemiliteran di Prancis. Setelah selesai, mereka diminta kembali ke Mesir
untuk mengajar di sekolah militer di Mesir;
3) Dalam bidang ekonomi, Ali Pasya melakukan beberapa langkah, yaitu: memperbaiki irigasi lama, membuat irigasi baru, menanam kapas, mendatangkan ahli dari Eropa, membuka sekolah pertanian.
4) Dalam bidang pendidikan, Ali Pasya melakukan mendirikan sekolah modern, yaitu: Sekolah Militer, Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran, Sekolah Apoteker, Sekolah Pertambangan,Sekolah Pertanian,  Sekolah Penerjemahan, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Politeknik, Sekolah Akunting, Sekolah
Sipil, Sekolah Irigasi, Sekolah Industri, Sekolah Administrasi, Sekolah Pertanian, Sekolah Perwira Angkatan Laut, Sekolah Industri Bahari, Sekolah Tinggi Kedokteran.

Selain itu, Ali Pasya memasukkan ilmu modern ke dalam
kurikulum pendidikan. Ali Pasya mengategorikan sebagai berikut:
a) Ilmu pengetahuan bahasa terdiri dari: bahasa Italia, Perancis,Turki, dan Persia;
b) Ilmu pengetahuan sosial terdiri dari: sejarah, geogra , ekonomi, antropologi, administrasi negara, pendidikan negara, pendidikan kemasyarakatan,  lsafat, militer, dan hukum;
c) Ilmu pengetahuan alam terdiri dari:  sika, farmasi, ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu teknik, aristek, dan kimia;
d) Matematika dengan pelajaran utama: aritmatika dan matematika;
e) Pengetahuan keterampilan yang terdiri dari: keterampilan umum dan pendidikan kesejahteraan keluarga. Ide Ali Pasya ini berpengarud pada perkembangan Mesir pada masa selanjutnya. Dengan ide tersebut berhasil menjaga stabilitas ekonomi Mesir sehingga berkembang dengan pesat, diantaranya Kairo dan Alexandria. Selain itu, dari kebijakan yang dikeluarkannya, menjadi landasan munculnya tokoh pembaharuan Islam pada masa berikutnya.

b. Rifa’ah Baidawi Ra ’at at-Tahtawi (1801 -1873)


At-Tahtawi, begitu dia sering dipanggil. Nama lengkapnya adalah Rifa’ah Baidawi Ra ’at at- Tahtawi. At-Tahtawi lahir dari keluarga bangsawan dan dibesarkan dalam tradisi keagamaan yang kuat. Saat umur 16 tahun, At-Tahtawi telah menyelesaikan belajarnya di Universitas al-Azhar Kairo. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan masternya di Egyptian Army Mesir. Kemudian, ia belajar selama lima tahun di Perancis. Selama di Perancis, At-Tahtawi menerjemahkan 12 buku dan risalah.

Setelah pulang dari Perancis, At-Tahtawi diangkat menjadi direktur sekolah penerjemahan pada masa pemerintahan Muhamad Ali Pasya. Sekolah penerjemahan memiliki fungsi sebagaimana Baitul Hikmah pada masa kejayaan Dinasti Abasiyah, yaitu sebagai pusat penerjemahan bukubuku Eropa ke dalam bahasa Mesir. Ia berhasil menerjemahkan sekitar 20 buku berbahasa Perancis dan mengedit puluhan karya terjemahan lainnya.

Pokok-pokok pemikiran at-Tahtawi adalah:
1) bidang pendidikan meliputi dua hal, yaitu: pendidikan harus universal dan emansipasi wanita. Pendidikan adalah hak semua golongan, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membedakan status ataupun jenis kelamin. Pandangan ini memiliki dua dampak, yaitu pemerataan pendidikan dan emansipasi. Selain itu, pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan menanamkan sikap rasa cinta terhadap bangsa;
2) bidang ekonomi, yaitu orang Mesir dahulu terkenal kaya lantaran tergantung pada tanah yang subur. Oleh karena itu perlu melakukan perbaikan di bidang pertanian, yaitu dengan menanam pohon kapas, anggur, zaitun, pemeliharaan lebah, ulat sutra, termasuk pengadaan pupuk tanaman yang murah, perbaikan irigasi. Selain itu, menganjurkan untuk melakukan perbaikan jalan yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Kemudian, perlu juga membangun jembatan dan alat komunikasi;
3) bidang kesejahteraan, At-Tahtawi berpandangan bahwa, kesejahteraan masyarakat atau negara dapat tercapai dengan dua jalan, yaitu: berpegang teguh pada ajaran agama (Islam), dan berbudi pekerti yang baik sehingga mampu melahirkan generasi yang memajukan perekonomian;

4) bidang pemerintahan. Menurutnya, contoh pemerintahan yang paling ideal adalah pemerintahan pada masa Rasulullah Saw. dan para sahabat. Pemerintahan harus dijalankan dengan adil berdasarkan undang-undang. Ia berpandangan bahwa untuk kelancaran pelaksanaan undang-undang tersebut, setidaknya harus ada tiga badan yang terpisah, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif;
5) tentang cinta tanah air atau patriotisme, At-Tahtawi berpandangan bahwa tanah air adalah tanah tumpah darah seseorang, bukan seluruh dunia Islam. Dengan patriotisme ini, At-Tahtawi berpendapat bahwa selain adanya persaudaraan seagama, juga ada persaudaraan setanah air. Persaudaraan satu tanah air ini ternyata lebih dominan sehingga patriotisme menjadi dasar kuat untuk mendorong seseorang atau golongan untuk mendirikan tatanan masyarakat yang beradab.
6) tentang ijtihad, menurut At-Tahtawi bahwa, ijtihad masih terbuka bagi umat Islam. Ijtihad harus dilakukan oleh para ulama yang memenuhi syarat. Konsep ijtihadnya ditulis dalam kitabnya al- Qaul al-Sadid  al-Ijtihad wa taqlid;
7) sains modern, menurutnya antara sains dan pemikiran rasional tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sains modern memiliki dua peran penting bagi kemajuan peradaban Islam, yaitu: sains modern berperan penting dalam meningkatkan kualitas umat Islam dalam melakukan ijtihad, dan kedua sains modern amat menunjang kesejahteraan kehidupan kaum muslimin di dunia, sebagaimana telah dikembangkan Eropa.





Thursday, March 11, 2021

Pengertian dan Hikmah Toleransi, Rukun, dan Menghindarkan Diri dari Tindakan Kekerasan

 


         Setiap manusia dalam kehidupannya senantiasa akan membutuhkan ketenangan, kenyamanan, dan penuh dengan perdamaian. Ketiga hal tersebut dapat tercapai apabila tertanam sikap toleransi, rukun, dan menghindari tindak kekerasan.

1. Toleransi

      Toleransi dapat diartikan sebagai membiarkan atau menghargai orang lain yang memiliki perbedaan dengan mayoritas dan tidak  memperlakukannya dengan kekerasan atau sikap kasar.

   Perilaku toleransi dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan hikmah dan maanfaat dalam kehidupan. Adapun hikmah dari perilaku toleransi  sebagai berikut :

a. Mencegah perpecahan dalam kehidupan.

b. Menumbuhkan saling menghargai dan menghormati.

c. Menumbuhkan kesadaran dan saling pengertian.

d. Memelihara kerukunan.

e. Mengokohkan kebersamaan.

f. Menciptakan rasa tanggung jawab.

g. Menumbuhkan kepekaan sosial antar anggota masyarakat.

 


2. Kerukunan

        Hidup rukun adalah suatu keadaan hidup tenang, damai, bersaudara, tidak bermusuhan antara satu individu  atau kelompok dengan individu atau kelompoklainnya.

Kerukunan yang dijalin dengan sesama tanpa membedakan latar belakangnya akan melahirkan berbagai hikmah antara lain sebagai berikut :

a. Kehidupan akan terasa tenang, tenteram,  dan damai.

b. Saling menghargai penuh kekeluargaan.

c. Rasa Kebersamaan dengan dilandasi persatuan dan kesatuan.

d. Menumbuhkan tanggung jawab untuk saling melindungi.

e. Meningkatkan sikap gotong royong dalam hal-hal yang positif.


 

3. Menghindarkan Diri dari Tindak Kekerasan.

        Tindakan kekerasan termasuk perbuatan zalim dan termasuk dosa besar yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim. Kezaliman yang dilakukan seseorang akan menjadi salah satu penghalang dirinya mendapat kasih sayang Allah Swt pada hari kiamat.

        Hikmah dari sikap menghindari tindakan kekerasan :

a. Akan menghiasi pribadi seseorang dengan kebaikan.

b. Hidup akan terasa tenang, tenteram dan damai.

c. Terjalin kerja sama, persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat.




 

Saturday, March 6, 2021

Ringkasan Materi Patuh kepada kedua Orang Tua dan Guru


 Hormat dan Patuhi Orang Tua dan Guru

 

1. Hormat dan Patuhi Orang Tua


 

Hormat dan patuh kepada orang tua adalah kewajiban setiap anak. Dalam agama Islam mengajarkan berbakti kepada orang tua adalah hal yang sangat penting. Istilah lain berbakti kepada orang tua adalah bir al-walidain. Maksud berbakti, menurut al-Atsari adalah menaati kedua orang tua dengan melakukan semua apa yang mereka perintahkan selama hal tersebut tidak bermaksiat kepada Allah Swt.

Bukti nyata perhatian Islam terhadap perintah berbakti kepada orang tua, setidaknya ada empat ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang perintah berbakti kepada orang tua disandingkan dengan larangan menyekutukan Allah Swt., di antaranya dalam Q.S. al-Isra/17: 23-24 yang memiliki arti :

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil
(Q.S. Al-Isra/17: 23 - 24).

Dari Q.S. al-Isra ayat 23, ada kata qadha, kalau dilihat dari beberapa tafsir mempunyai makna yang berbeda. Misalnya, Ibnu Katsir mengartikan dengan mewasiatkan, sedangkan al-Qurtuby mengartikan dengan memerintahkan, menetapkan, dan mewajibkan. Secara umum, ayat di atas menegaskan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Apalagi melihat redaksi ayat tersebut, sebelum perintah berbuat baik kepada orang tua, dilarang menyekutukan Allah Swt. Asy- Syaukani dalam hal ini menjelaskan, “Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya).”

Bagaimana bentuk berbuat baik kepada orang tua? Setidaknya ada lima hal yang dapat kita ambil pelajaran dari Q.S. al-Isra/17:23-24, yaitu, sebagai berikut.


a. Jangan engkau mengatakan kepada keduanya uf

Dalam Q.S. al-Isra ayat 23 di atas, seorang anak dilarang mengatakan uf. Menurut Quraisy Syihab, bukan karena kata itu, tetapi kandungan kata itu oleh masyarakat Arab, hal tersebut dianggap penghinaan. Sedangkan menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan jika ada perkataan yang lebih ringan dari “ah”, maka Allah akan menyebutkan kata itu. Dalam Al-Qur’an dan terjemahnya yang dikeluarkan Kementerian Agama, kata uf diartikan dengan ah. Mengapa tidak boleh? karena kata tersebut di masyarakat dinilai sebagai ucapan kekesalan dan penghinaan. Pertanyaannya, berkata ah saja tidak boleh, apalagi kata yang lebih panjang yang menyakiti hati orang tua?

b. Jangan membentak keduanya (walaa tanharhumaa)
Ayat ini melarang anak membentak kepada orang tua, baik berupa lisan maupun sikap. Dengan membentak tentunya orang tua akan sakit hati, padahal orang tua yang merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya.
c. Bertutur kata dengan perkataan yang baik (waqul lahumaa qaulan karima)
Ini adalah perintah anak kepada orang tua agar bertutur kata dengan ucapan yang baik. Jangan sampai melakukan yang diungkap sebelumnya, yaitu berkata ah atau membentaknya.
d. Merendahkan diri kepada orang tua dengan penuh kasih sayang (wakhdz lahumaa janaaha al-dzulli min ar-rahmah)
Meskipun orang tuanya secara pendidikan lebih rendah, anak tidak boleh merasa sombong. Dengan kata lain, kita dilarang merendahkan diri kepada orang tua baik lisan maupun tindakan.

e. Selalu mendoakan orang tua
Sebagai anak shaleh dan shalehah, tentunya kita selalu mendoakan orang tua. Bagi yang masih hidup, didoakan semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan dalam mencari rezeki, dan selalu dalam bimbingan Allah Swt. Sedangkan bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, didoakan, semoga diampuni segala dosanya dan diberi kenikmatan di alam barzakh.

2. Hormati dan Patuhi Guru



Dengan kata lain, guru mempunyai dua tugas yang mulia, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peserta didik. Dalam kajian Islam, guru disebut dengan murabbi, mu’alim, dan mu’addib. Chabib Thoha memberikan pengertian murabbi adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat rabbani yaitu nama bagi orang-orang yang bijaksana dan terpelajar dalam bidang pengetahuan. Sedangkan mu’alim bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan atau keterampilan.
Sementara mua’adib adalah memberi adab dan mendidik peserta didik. Antara ketiga hal tersebut, seharusnya menjadi satu kesatuan yang harus dimiliki guru. Melihat tugas yang mulia tersebut, pakar pendidikan Islam, Muhammad Athiyyah al-Abrasyi menyamakan dengan ‘ulama.

Guru adalah pewaris para nabi. Mengapa? Karena melalui guru, ilmu yang para nabi, disampaikan kepada umat manusia. Bahkan ulama klasik, al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumudin menegaskan: “Seseorang yang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit. Ia ibarat matahari yang mencahayai dirinya sendiri dan menyinari orang lain, ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya.”

Cara Berbakti kepada Guru
Dalam berbakti kepada guru dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, guru yang sekarang masih mengajar di sekolahmu dan kedua, guru yang pernah mengajarmu pada jenjang sebelumnya.
Dari keduanya akan dijelaskan sebagai berikut.
1) Di antara cara berbakti kepada guru yang masih mengajar di
sekolahmu, adalah:
a) saat bertemu di sekolah ataupun di luar sekolah, menyampaikan senyum, salam, dan sapa.

b) membantu menyiapkan persiapan pembelajaran di kelas, misalnya menghapus tulisan di papan tulis.
c) memperhatikan guru saat menjelaskan materi pembelajaran;
d) apabila bertanya, disampaikan dengan cara yang santun;
e) melaksanakan tugas pelajaran dengan sebaik-baiknya.

Friday, March 5, 2021

Pengaruh Gerakan Pembaharuan Terhadap Perkembangan Islam di Indonesia

 


    Gerakan pembaharuan Islam muncul di Mesir, India, dan Turki pada abad modern, secara langsung atau tidak langsung, berpengaruh pada gerakan Islam di Asia Tenggara. Para tokoh Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menyerap secara selektif ide-ide pembaharuan dari tokoh-tokoh Islam luar negeri yang telah disebutkan diatas.

    Pengaruh tersebut diakui oleh para tokoh Islam dan intelektual Islam di Indonesia berikutnya dalam bentuk tulisan-tulisan. Misalnya, pada tahun 1961, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), menulis buku berjudul Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia. Pada tahun 1969, H.A. Mukti Ali, mantan Menteri Agama Republik Indonesia menulis buku berjudul Alam Pikiran Islam Modern di Indonesia. tahun 1973, tulisan Deliar Noer diterbitkan oleh Oxford University Press berjudul The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942. Buku tersebut terbitkan dalam versi bahasa Indonesia pada tahun 1980 berjudul Gerakan Modern Islam di Indonesia Tahun 1900-1942. Tulisan serupa masih muncul di Indonesia di tahun-tahun berikutnya.

Dari buku H.A Mukti Ali dapat diketahui adanya lima faktor yang mendorong munculnya gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, yaitu :

1. Adanya kenyataan ajaran Islam yang bercampur dengan kebiasaan yang bukan Islam.

2. Adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam yang kurang efisien.

3. Adanya kekuatan misi dari luar Islam yang mempengaruhi gerak dakwah Islam.

4. Adanya gejala dari golongan intelegensia tertentu yang merendahkan Islam.

5. Adanya kondisi Politik, Ekonomi dan Sosial Indonesia yang buruk akibat penjajahan.



semoga bermanfaat

Monday, March 1, 2021

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA KEJAYAAN

 Bangun dan Bangkitlah Wahai Pejuang Islam

 

    Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Islam yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20 % di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi muslim tersebar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.


 

    Perkembangan Penduduk muslim yang cukup signifikan tentu saja berpengaruh terhadap umat Islam itu sendiri. Pada Zaman Rosululloh Saw Umat Islam masih sedikit dan oleh karena itu penanganannya juga tidak serumit saat ini. Berbagai macam muslim yang satu sama lain memiliki persepsi tentang Islam, menjadikan Islam berwarna warni. Sepanjang masih saling menghargai dan toleransi antara intern agama, Islam insya Allah akan berkembang pesat dengan baik. Akan tetapi, apabila setiap kelompok mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling benar, inilah awal dari kehancuran. Berdasarkan analisis tersebut, kita sebagai pemeluk agama Islam harus  waspada dan terus belajar tentang Islam secara Kaffah sehingga akhirnya kita menjadi orang yang arif lagi bijaksana.


Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya, bahwa periodisasi Islam dibagi menjadi tiga periode, yaitu; Islam pada Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern. Sekarang kita akan membahas Islam pada Masa Modern.

1. Islam pada Masa Modern

 

Masa modern, menurut Harun Nasution dimulai dari tahun1800 – sekarang. Masa ini disebut dengan  zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon Bonaparte di Mesir yang berakhir tahun 1801 M, membuka mata dunia Islam, terutama di Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mencari jalan untuk mengembalikan kejayaan Islam.Padahal pada periode klasik, Islam menjadi panglima dalam peradaban. Sebaliknya, di Barat pada  masa itu masih mengalami kegelapan. Sedangkan masa modern ini ditandai dengan adanya kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang,khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi saat itu negara-negara Islam banyak dijajah oleh penjajah. Banyak negara muslim mengikuti gerakan pembaruan tersebut, sehingga lahirlah suatu tatanan baru dalam dunia Islam, yaitu kebangkitan dunia Islam, baik bidang ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, maupun kebangkitan melawan penjajah. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan gerakan modernisasi atau pembaruan yang didorong oleh tiga faktor.

a. Pemurnian ajaran Islam dan unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam.
b. Menimba gagasan-gagasan pembaruan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Hal ini dengan pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki, Mesir, dan India ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam.
c. Kondisi negara-negara Arab, seperti Mesir, Turki di bawah jajahan negara-negara Eropa, khususnya Perancis.


BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN (FASTABIQUL KHAIRAT)

  A. PENGERTIAN BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN *Fastabiqul Khairat* berasal dari bahasa Arab:   `فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ` = "Maka ber...